Bagi blogger, membaca (buku) dan menulis merupakan kata kerja yang sarat cinta. Masing-masing personal pasti memiliki alasan dan cerita tersendiri tentang dua dunia yang saling bersinergi tersebut. Saya juga demikian. Tulisan kedua yang saya ikut sertakan dalam lomba 8 minggu ngeblog bersama blogger Angingmammiri, pekan kelima.
Saya senang membaca. Kakak dan adik-adik saya juga senang membaca. Sejak kecil, buku menjadi kawan karib kami, khususnya buku fiksi. Mulai dari majalah Bobo, Aneka, Anita sampai serial Wiro Sableng, Pendekar Rajawali Sakti, Lupus dan novel Fr*ddy S. Nb: Novel terakhir tidak direkomendasikan.
Saya juga senang membaca buku paket Bahasa Indonesia untuk kelas berapa saja. Saya mencari cerita pendek, dongeng, fabel, percakapan, pantun, maupun puisi untuk dibaca. Kecintaan terhadap buku berlanjut meski genre-nya berbeda seiring perbaikan pemahaman. Bacaan saya lebih Islami meski tak meninggalkan bacaan yang lain asalkan tidak vulgar. Kakak saya suka bacaan yang lucu, adik saya suka bacaan yang berat seperti buku tentang filsafat.
Saya mau bercerita tentang kakak. Saya kurang referensi tentang adik-adik saya. Saya dan kedua adik saya lebih sering hidup terpisah. Beda halnya dengan kakak. Kami beranjak remaja bersama.
Kakak memiliki kesempatan istimewa bersama mammi lebih lama dibanding saya dan adik-adik. Samar di ingatan, alm. mammi (ibu) yang membuat kakak mencintai buku. Sebagai anak sulung, kakak mendapatkan prioritas untuk diperhatikan. Mulai dari kosmetik, gaya rambut, selera musik, hingga bacaan. Mammi selalu menfasilitasi kakak. Saya? Sepertinya tidak pernah. Mungkin karena saat itu kakak sudah beranjak remaja. Saya iri? Tentu saja tidak. Saya malah merasa dibebaskan menjadi diri sendiri. Toh, barang-barang kakak bisa saya gunakan. Buku dan majalahnya bisa juga saya baca.
Umumnya, orang yang suka membaca juga suka menulis. Kakak sayapun begitu. Saya harus mengakui jika saya tertulari. Standar, kami menulis diary. Kami bukan keluarga pendiam. Kami hanya tidak terbiasa blak-blakan membicarakan masalah. Terlalu banyak letupan-letupan luka sehingga rasanya tidak ingin saja menambahnya dengan permasalahan remeh temeh gadis remaja. Kami kadang diam-diam membaca diary masing-masing. Saya tahu itu tidak sopan. Tapi kami biasanya tidak marah. Saya dan kakak (mungkin) merasa punya teman berbagi tanpa perlu mengatakannya langsung.
Hasil dari membaca lalu menulis ditambah dengan kegemaran menonton dan jalan-jalan membuat imajinasi saya melanglang buana, melewati batas kampung kecil tempat saya besar. Wawasan dan pemikiran saya katanya jauh melampaui kawan-kawan saya saat itu. Kawan-kawan saya bahkan pernah berkata "Edede, kata-katanya Isma tinggi dudui... Kadang ki tidak mengerti". Saya gadis desa yang senang menjelajahi dunia meskipun belum sempat menjejakkan kaki di sana.
Saya mencoba mengulik-ulik memory otak. Apakah benar saya suka membaca dan menulis karena kakak? Saya bukan tipe orang yang mudah membeo. Saya berpikir keras malam ini. Saya pun menemukan jawaban. Hal pertama yang membuat saya jatuh cinta pada dunia buku adalah dongeng.
Yah, dongeng. Dua dongeng yang sering diceritakan ummi (nenek) sebelum tidur malam saya. Dongeng yang khusus diceritakan kepada saya, cucu kesayangan. :). Kakak dan adik-adik tidak berkesempatan mendapat jatah. Cerita tentang Maling Kundang serta cerita tentang Nenek Tua dan Ikan Gabus. Dua cerita itu yang bergantian diulang-ulang. Saat itu, rasanya saya memiliki bioskop terluas di dunia, tanpa sekat. Ketika ummi bercerita, bermunculanlah adegan demi adegan di kepala saya. Saya dipicu untuk membayangkan keseluruhan cerita dari awal sampai akhir menurut keinginan saya. Warna baju Malin, bentuk kapalnya, cantik istrinya, sedih ibunya juga renta si nenek tua, reot rumahnya, jumlah ikan gabus dan masih banyak lagi.
Dongenglah ternyata yang menghantarkan saya untuk semangat mencari bacaan. Saya tau cerita dongeng di dunia tidak hanya dua. Saya membutuhkan lebih banyak kisah. Saya tertantang untuk mengimajinasikan berbagai hal. Saya termotivasi untuk melahap bahan bacaan kakak maupun pinjaman dari perpustakaan. Saya memintal hikmah kehidupan yang tak sempat diajarkan alm. mammi. Saya menemukan kesenangan menjelajahi dunia kata. Kesenangan ini membawa dilema. Saya akhirnya kurang suka menonton film yang diangkat dari buku yang pernah saya baca. Rasanya, peran sutradara terenggut dari tangan saya.
Seorang penulis terkenal di Makassar yang saya suka gaya bertuturnya, Ka Aan, di sebuah talkshow, mengemukakan jika dirinya juga karib dengan dongeng. Hal yang membuat beliau tertantang untuk berimajinasi. Kemampuan imajinasi saya belum ada apa-apanya dibanding beliau. Tapi setidaknya, saya memiliki kawan yang merasakan kecintaan pada dunia membaca dan menulis lewat hantaran dongeng masa kecil.
Dongeng dari ummi menjadi cinta pertama yang menemani saya berpetualang ke cinta-cinta selanjutnya. Suport mammi menjadi tatakan anak tangga untuk merasakan cinta itu. Keberadaan kakak, adik-adik juga, menjadi kawan saya bertumbuh meski menemukan cinta yang berbeda-beda.
Tapi dalam perjalanan waktu, saya agak mengabaikan keberadaan cinta pertama yang berjasa. Saya tidak kanak-kanak lagi. Saya sudah lama tidak membaca atau membacakan dongeng. Padahal, ada amanah besar di depan saya untuk anak-anak saya kelak. Apalagi, profesi saya sekarang menitipkan 361 anak untuk saya didik bersama teman-teman yang lain. Mampukah saya menjadikan mereka lebih kaya imajinasi agar tidak menjadi generasi pembeo dan minim kreativitas? Ah, saya harus melakukannya. Itu adalah utang. Saya mesti terpacu untuk menghantarkan mereka menikmati dongeng kehidupan mereka sendiri. Bisa jadi mereka tak memiliki nenek yang jago mendongeng, ibu yang menganggap buku sama penting dengan makan siang, atau kakak yang senang membaca dan menulis. Saya akan mencoba...
Ketuk pintuku dan silahkan bertamu. Nikmati secangkir teh dan beberapa potong kata tersurat serta tersirat. Mengguratkan senyum, mengharukan hati, bergolak amarah. Semoga ada ibrah. It's me.... Eeshma *_*
Showing posts with label apresiasi. Show all posts
Showing posts with label apresiasi. Show all posts
Friday, 10 May 2013
Saturday, 27 April 2013
[Soneta] Seorang Perempuan yang Ditinggal Mati Kekasihnya
: Untuk Maryah dan Ayyu’
Ia, pada akhirnya, mampu maklum terhadap tugas malaikat
yang, jika waktunya tiba, bekerja sebagaimana biasa, mencabut nyawa
meskipun dulu ia menganggap (malaikat itu) kejam dan jahat
yang tidak memberinya kesempatan sekedar mengucap selamat berpisah kepada kekasihnya.
“Jangan bersedih,” katanya kepada dirinya sendiri menguat-nguatkan
perasaan kehilangan ketika menyaksikan peristiwa yang mengait-ngaitkan
ingatan kepada kekasihnya hingga memuncak-buncahkan kerinduan
membuat ia kadang-kadang bertanya, “Kapan aku juga bisa berselimut kafan?”
Sungai yang berhulu di pelupuk matanya tidak pernah
kering. Ia sering meluangkan waktu meluapkan
kenangan yang tertampung dan kemudian tertumpah
setelah sesaat sebelumnya masih berbentuk genangan.
Pandangannya mengabur, jantungnya berdebar-getar tidak teratur
mengingat seseorang yang telah lama tertidur, pulas, di kubur.
>> Cipulir, 09 November '09
by ka acank
Ia, pada akhirnya, mampu maklum terhadap tugas malaikat
yang, jika waktunya tiba, bekerja sebagaimana biasa, mencabut nyawa
meskipun dulu ia menganggap (malaikat itu) kejam dan jahat
yang tidak memberinya kesempatan sekedar mengucap selamat berpisah kepada kekasihnya.
“Jangan bersedih,” katanya kepada dirinya sendiri menguat-nguatkan
perasaan kehilangan ketika menyaksikan peristiwa yang mengait-ngaitkan
ingatan kepada kekasihnya hingga memuncak-buncahkan kerinduan
membuat ia kadang-kadang bertanya, “Kapan aku juga bisa berselimut kafan?”
Sungai yang berhulu di pelupuk matanya tidak pernah
kering. Ia sering meluangkan waktu meluapkan
kenangan yang tertampung dan kemudian tertumpah
setelah sesaat sebelumnya masih berbentuk genangan.
Pandangannya mengabur, jantungnya berdebar-getar tidak teratur
mengingat seseorang yang telah lama tertidur, pulas, di kubur.
>> Cipulir, 09 November '09
by ka acank
Tuti (tak banyak orang yang menulis tentangku, membuatku tak sendiri)
ah, pinguinku kenapa harus kau alami semua ini. Di saat kau telah berhasil menguak arti sebuah rasa, mengapa luka justru datang menyapa..ingin rasanya membuat perhitungan dengan orang yang menorehkan luka dihatimu, tapi aku yakin kau akan melarang. Karena kau yakini keputusannya adalah yang terbaik, meski harus meninggalkan luka dihatimu. Ah, pinguin tak kusangka curhat-curhat panjang itu akan berakhir seperti ini. Maafkan jika sembabnya matamu luput dari pandanganku. Tapi yakinlah aku mencoba meresapi apa yang sedang kau rasa. aku yakin kau tegar dan menarik hikmah dari apa yang kau alami, pun juga aku.
Ah, rasa ibarat dua mata sisi yang berbeda. bahagia dan luka. itulah tawarannya. berani ada didalamnya berarti harus berani dengan segenap konsekwesinya. Kau telah khatam tentang teori mars dan venus berusaha menerapkannya. tapi sayang semua terlambat. Disaat kau merasa baru membuat sebuah komitmen dan dengan basmalah menjalaninya ternyata menurut marsmu semua justru adalah sebuah akhir. Begitulah sebagian orang-orang mars. membuat komitmen lalu meninggalkannya dan enggan menjaga komitmen yang telah dibuatnya. Mungkin alasannya karena tidak lagi menantang..terlalu..mars memang aneh karena itulah sebagai venus kita harus belajar tentang mereka. Mengalah diatas segenap keegoisan mereka. Mungkin bukan egois tapi itu sikap diri mereka. kau masih ingatkan tentang teori itu. bahwa orientasi mereka adalah hal-hal besar dalam hidup hingga mengindahkan hal-hal kecil yang bagi kita orang-orang venus sama berartinya. ah mars membingungkan memang, butuh banyak stok maaf, toleransi, sabar dan mengalah untuk berhadapan dengan mereka.tapi sudahlah pinguinku relakan saja semuanya. karena kuyakini dia bukan orang yang tepat untukmu..aku tau ketulusan rasamu dan kebesaran jiwamu.kau berhasil menguak kesejatian rasa bahwa mencitai tak selamanya harus memiliki. Bahwa cinta yang sesungguhnya adalah berani mengorbankan rasa yang kita punyai demi kebahagiaan orang yang kita cintai meski itu tidak bersama kita. ah pinguin semua bukanlah akhir, ini baru awal dari sebuah bahagia…percayalah……
Hei...ini Maryahmu
Hei... lelaki yang tertidur lelap. takkah gundah hatimu membiarkanku kesepian tanpa teman. merecokiku dengan berbagai permintaan. menahan kantuk hanya sekedar menemanimu makan.
Hei... leleki yang membuat hatiku menangis. tegakah kau membiarkanku mengelana sendiri dalam tandus, kehausan, tak menemaniku bercerita panjang lebar di tembok kanal yang dingin. menertawai dan tergugah akan aneka ragam manusia yang berseliweran.
Hei... lelaki yang memujaku. tak rindukah kau pada amarahku, ngambekku, kenaifanku. bersedia ada sebisamu jika kubutuh. memberiku persaudaraan tanpa kuminta.
Hei... lelaki yang mempercayaiku. tak bergeserkah kepercayaanmu padaku dengan apa yang terjadi selama ini. aku tak setegar dugaanmu. aku butuh bicara tentang kekalutanku.
Hei... lelaki yang selama hidupnya tak pernah mengubah persepsinya terhadapku. aku yang rindu tuntutanmu jika ingin diprioritaskan tanpa peduli perempuan-perempuan dan lelaki-lelaki itu. padamu, aku merasa disayangi dan dihargai dengan tulus.
Hei... lelaki yang memanggilku maryah. aku enggan bertemu lagi denganmu. aku tak mau merusak kenanganku. bahwa, ada satu orang yang buatku nyaman memahami hitam putihku.
Wednesday, 17 April 2013
Inaugurasi Mipa 2012 “Eksistensi berlembaga menuju mahasiswa berkapasitas dalam bingkai kemipaan”, 17 April 2013
Saya terlambat datang tapi mendapat tempat duduk di barisan kursi
paling depan sebelah kiri. Untungnya, ada adik dari jurusan Biologi yang masih
mengenali wajah saya. Saya di antar dengan hormatnya. Biasa, super senior.
Agak khawatir sebenarnya. Di luar baruga sebelum saya masuk,
telinga ini menangkap kesan yang kurang bagus dari penonton yang pulang tanpa
mengakhirkan pertunjukan. "Edede... Inaugurasi paling jelek. Nda jelasnya
deh...". Itu perspektif, meski biasanya jelek itu mutlak dan bagus itu
relatif. Tapi karena saya datang tanpa membawa ekspektasi apa-apa (lebih-lebih
inaugurasi 03 yang katanya terbagus sepanjang sejarah...heheh, katanya loh),
saya berusaha menikmati setiap suguhan yang disajikan mahasiswa angkatan 2012.
Memang beda feelnya saat masih berada di lembaga dengan telah
menjadi alumni. Tuntutan idealisme dan nilai-nilai pengkaderan yang harus
diturunkan membuat senior lebih "galak" dan menginginkan lebih. Hal
itu melahirkan ketidakpuasan atas kesalahan-kesalahan manusiawi dari
junior. Jika telah menjadi alumni,
kedatangan ke sebuah acara pengkaderan lebih untuk bersenang-senang,
bernostalgia, silaturahmi.
Yah, inaugurasi memang merupakan pengkaderan puncak tingkat
fakultas bagi MABA, setidaknya menurut KMF MIPA UH yang saya pahami. Setelah
ospek yang dinamai Progresip, ospek di jurusan masing-masing ( SPL bagi anak
Biologi, Bina Kader bagi anak Fisika, Bina Akrab bagi anak Kimia dan
Matematika, kalo tidak salah lagi), maka dibentuklah kepanitiaan ianugurasi. Panitia dan pengisi
acaranya dari maba itu sendiri.
Terkesan hura-hura karena dominan pertunjukan seni sarat musik dan
menghabiskan banyak dana. Ada aneka jenis tarian, band, parodi. Sempat ada
selentingan, saya saya masih mahasiswa, beberapa maba dilarang ikut inaugurasi.
Saya sih melihat sisi positifnya. Apalagi di MIPA ada aturan tak tertulis yang
semoga jadi tradisi turun temurun (jika belum bisa dijadikan hukum, hehe).
Cowok dan cewek tidak boleh bersentuhan saat di panggung, pakaian cewek harus
sopan (gak ada tuk istilah pake celana pendek. Pake celana panjang ketat saja
senior cowok bakal nasehatin, bahasa halus dari mempermalukan), dan karena
cewek dijaga maka cowoklah yang lebih dominan dieksplorasi (ingat Najar dan
Rio). Imej MIPA sebagai pesantrennya UNHAS bisa sedikit terjaga dibanding
dengan inaugurasi lain (semoga).
Di inaugurasi juga ada prosesi pengukuhan maba menjadi warga KMF
MIPA. Meski saya melewatkan prosesi ini karena telat datang, pengukuhan
biasanya "disakralkan". Inti inaugurasi ya... di pengukuhan ini.
Meski proses-proses sebelumnya tak kalah penting. Pengumpulan, rapat, persiapan
panitia, kerja keras steering, tanggung jawab pengurus BEM, dalam bingkai kebersamaan.
Hiburan dan pengukuhan pada inaugurasi, seharusnya menjadi sarana penyampai
pesan kemanusiaan dan kemahasiswaan agar tak dipandang hura-hura semata.
Hal yang paling membuat saya respek pada inaugurasi angkatan 2012
adalah persembahan dari angkatan 2011. Respek dan membuat saya
terpingkal-pingkal. Parodi battle tarian yang mereka suguhkan keren dan lucu.
Di atas semua itu, saya respek karena
masih mau berpartisipasi di acara junior mereka. Biasanya, jika telah
menjadi senior, atau baru menjadi senior, sudah sok merasa "jago".
Saya ngefans sama sosok tambun yang jago dance india itu. :).
Pertunjukkan usai, ada sepatah kata dari alumni. K'Ical 01 (odo2nya
siapa ya di angkatan saya? ;)), Uccing 05, dan Ibe 07 (kalo tidak salah). Saya
hanya mendengar dan tersenyum. Meski tema inaugurasi dan parodinya absurd
(hehe), saya tidak menyesal duduk di bangku penonton. Saya tetap mau
menyaksikan inaugurasi-inaugurasi selanjutnya. Salam Use Your Mind Be the
Best!!!
Monday, 15 April 2013
Menulislah Isma
Salah satu terapi kejiwaan adalah dengan menulis. Yah, pada saat
masalah menghantam jiwa dan stres mulai melanda, maka dibutuhkan pengendali
agar tidak menjadi gila atau minimal tidak merugikan hari-hari kita. Pada
kondisi tersebut, kerapkali kita merasa bahwa berbicara dengan orang lain
bukanlah solusi terbaik. Hanya kita yang memahami masalah yang kita hadapi.
Berbicara dengan teman, sahabat, orang tua, atau dengan yang lainnya bisa jadi
menuai respon yang kita tidak inginkan, bahkan terkesan menyalahkan. Akan
menambah masalah dan menyebabkan keterpurukan yang dalam. Makanya, menulislah.
Tinta dan kertas tak pernah berkhianat. Mereka setia dan tidak cerewet. Kita bisa menuliskan apa saja, semau kita. Perasaan yang bercampur aduk, kemarahan, kesepian, kekecewaan, kerinduan, bahkan perasaan yang kita tidak mengerti sama sekali. Tulisan-tulisan kita tidak akan berbalik menyalahkan atau memberi nasehat yang kita tidak ingin dengar. Mereka siap menampung uneg-uneg kita dan tidak menceritakan kembali kepada yang lain kecuali kita teledor menyimpannya.
Saya intens menulis (diary) sejak SMP kelas 1. Memang sih, selain matematika, saat SD saya paling suka pelajaran Bahasa Indonesia jika diminta untuk menuliskan pengalaman pribadi setelah liburan. Saya selalu menyelesaikan pertama kali dan mendapat nilai bagus. :). Tapi untuk rutin menulis, ya saat SMP. Ketika pubertas sudah menghampiri maka sulit untuk menceritakannya ke orang lain. Didekati kakak kelas, suka sama ini, tidak suka sama ini...rasanya malu saja jika semua orang tahu. Alhasil, jadilah diary warna warni beraroma wangi yang menjadi curhatan hati di malam hari :). Seringpula saya mengasah kemampuan menulis dengan membalas surat cinta beberapa lelaki. Perlu keahlian khusus untuk menulis kalimat penolakan bernada halus agar mereka tidak tersinggung. Saya tidak mau pacaran. Apalagi masih SMP. :(.
Saya juga sudah mulai menulis puisi yang dikonsumsi pribadi. Apalagi sejak ibu meninggal dunia. Hanya kata-kata yang mampu saya jadikan tempat berbagi. Menulis menjadi sarana pelarian duka cita. Saya tidak boleh mengumbar kesedihan sebab keluarga akan turut bersedih dalam waktu yang lama. Saya harus kuat, dimata mereka. Maka pada kata dan puisilah saya melampaiskan tangis.
Kebiasaan dan kesenangan menulis berlanjut saat di SMA. Bukan lagi sekedar pelampiasan masalah. Menulis kini bukan hanya terbatas pada diary. Saya dan kelima teman bergabung dalam komunitas KIR (Kelompik Ilmiah Remaja) yang dibimbing oleh Pak Muhannis, guru bahasa Jerman kala itu dan seorang budayawan. Kami dibimbing untuk menulis karya tulis ilmiah populer. Beberapa kali kami mengikuti lomba menulis antar kabupaten. Saya tidak pernah menjadi pemenang pertama :).
Juara bukan prioritas atau mungkin keahlian saya. Saya cukup bangga menjadi bagian dari komunitas kepenulisan yang peduli pada bakat pelajar sekaligus perhatian terhadap budaya lokal. Menulis dan jalan-jalan, dua hal yang menjadi possion saya. Untuk observasi atau sekedar dekat dengan budaya lokal,kami pernah mengunjungi kampung adat Karampuang. Kami juga pernah nginap di sebuah kampung terpencil di kec. Sinjai Tengah yang memiliki kepercayaan unik tentang leluhur mereka. Kami juga pernah menjelajahi pesisir Bulukumba, mengunjungi Kajang, dan menginap di pantai Ara lalu mendatangi sebuah gua yang dijadikan tempat penyimpanan makam kayu oleh orang-orang di zaman dahulu. (Spertinya saya harus menulis khusus tentang perjalanan saya). Biaya perjalanan kami diambil dari uang hadiah hasil lomba yang disisihkan.
Saya dan teman-teman lumayan terpicu dan berpacu untuk menulis karena sering diikutkan dalam perlombaan. Saya pernah membuat tulisan dengan tema Dampak TV Bagi Pelajar, Sistem Pertanian Tradisional di Kab. Sinjai, dan Asal Usul Nama Desa Pattalassang. Tulisan terakhir berhasil memjadi juara 2 dan dibukukan bersama pemenang yang lain oleh sebuah yayasan dari Jepang. Sangat bangga kala itu karena akhirnya punya karya dan punya buku meski proyek bersama. Sayangnya, buku jatah saya hilang. Teman-teman saya juga sudah tidak memilikinya. Satu-satunya bukti tersimpan di perpustakaan daerah Sinjai :(.
Selepas SMA, saya kehilangan komunitas. Tapi diary tetap setia menemani. Kembalilah saya menulis untuk diri sendiri. Saat saya jatuh cinta pada senior dan di pemahaman agama saya kala itu dilarang untuk memgungkapkannya kecuali dalam pernikahan, diarylah yang jadi pelarian. Saat kegelisahan tentang dunia kahasiswaan mengganggu isi kepala, diarylah yang menjadi tempat pelampiasan (karena saya tidak suka ikut demonstrasi). Kadang menulis puisi lalu dikirim ke radio kampus dengan memggunakan nama samaran.
Sering mencoba cari komunitas baru untuk menambah ilmu tapi belum menemukan yang cocok di hati. Lalu saya mencoba menggerakkan teman-teman untuk sama-sama menulis dan menerbitkannya dalam buletin. Alhamdulillah, terbit satu edisi. Selebihnya hanya bergelayut pada ide dan obsesi. Sampai sekarang, buletin edisi selanjutnya belum juga terbit. Menulis untuk konsumsi publik ternyata tak semudah kelihatannya, meski tak mustahil pula.
Menulis, yah... Menulislah. Karena waktu akan pergi dan tulisanlah yang merekam jejaknya. Lucu saja rasanya jika kembali membaca tulisan yang dulu. Mengingatkan kejadian yang terlupakan, menjadi bukti valid peristiwa masa lalu. Membaca kembali curahan hati atau beberapa karya seringkali menyembuhkan luka kesendirian yang kerap muncul.
"Ikatlah ilmu dengan tulisan" kata-kata bijak yang pernah saya dengar. Al Qur'an pada masa khalifah Usman juga akhirnya diputuskan untuk dituliskan demi menjaga keberlangsungan pengetahuan. Maka, menulislah Isma... :). Setelah membaca tentunya. Ikatlah makna-makna yang kau temui disekitarmu pada kata. Orang lain belum tentu menemukannya atau bisa jadi mereka pada sudut pandang yang berbeda. Menulislah dan berbagilah pada dunia. :).
Subscribe to:
Posts (Atom)