Apa itu? Kata tanya yang menguasai sisi otakku. Sebuah kata asing yang ternyata menjadi rutinitas pagi di sekolah tempatku mengabdi. Setiap pagi, setelah kegiatan baris berbaris usai, murid-murid akan duduk melingkar di lantai, atau tetap di kursinya masing-masing. Mulailah mereka melantunkan dzikir dan do'a-do'a. Bagi kelas bawah, akan dipandu oleh wali kelas tapi untuk kelas atas biasanya mereka Al Matsurat sendiri karena mereka telah menghafal rangkaian lantunan tersebut dari awal hingga akhir. Aktivitas ini bisa berlangsung sebelum atau sesudah sholat dhuha.
Isi Al Matsurat berupa puja puji pada Allah SWT sekaligus permohonan seorang hamba kepada Rabbnya yang dirangkum dalam rangkaian dzikir. Dilakukan pada pagi dan sore hari. Do'a dan dzikir yang terdapat di dalamnya senantiasa merujuk pada tuntunan Rasulullah.
Saya kalah dengan anak-anak. Saya sama sekali belum hafal semua isinya, kecuali Al Fatihah, ayat pertama Al Baqarah, Al Ikhlas, An Nas, Al Alaq, dan ayat kursi. Memori otak saya ternyata sudah menurun kecerdasannya.
Al matsurat tidaklah wajib. Hanya pembiasaan dalam proses pendidikan. Saya juga bukan orang yang rajin membacanya. Hanya saja, di sebuah subuh yang damai, ketika sebagian besar teman-teman berjuang melawan kantuk, saya terjebak dalam pesona kandungan Al Matsurat. Hati saya seolah dihujani kesejukan yang menyesakkan. Saya terpapar keharuan. Saya seakan terlempar di sudut terdasar kesadaran. SAYA HAMBA. Salah satu do'a yang terdapat pada bacaan Al Matsurat:
Allahumma anta rabbi laa ilaaha illa anta khalaqtanii wa anaa 'abduka wa 'anaa 'ala ahdika wawa' dika maastatha'tu audzubika min syarrimaa shana'tu abu'ulaka bini'matika alayya wa 'abuu'u bidzambii faghfirlii fa'innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta. (3x)
Ya Allah Engkaulah Tuhanku , tiada tuhan melainkan Engkau , Engkau menciptakanku, aku hambaMu,aku berada dalam perjanjian dengan Mu dan ikrar pada Mu semampuku. Aku berlindung kepada Mu dari kejahatan yang aku perbuat, aku mengakui nikmatMu terhadapku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, karena tidak ada pengampun dosa kecuali Engkau.
Betapa, saya begitu kecil bagiNya. Lalu atas dasar apa saya mampu melawan kuasa dan takdirNy ?!
Ketuk pintuku dan silahkan bertamu. Nikmati secangkir teh dan beberapa potong kata tersurat serta tersirat. Mengguratkan senyum, mengharukan hati, bergolak amarah. Semoga ada ibrah. It's me.... Eeshma *_*
Showing posts with label buah pikir. Show all posts
Showing posts with label buah pikir. Show all posts
Wednesday, 5 June 2013
Wednesday, 29 May 2013
Komunitas Ideal Versi Isma
Tulisan ini saya ikut sertakan dalam tantangan 8 minggu ngeblog yang diadakan oleh Angingmammiri, pekan kedelapan.
Saya dibesarkan di lingkungan yang tingkat interaksinya tinggi. Sebuah desa kecil di selatan Kota Sinjai. Sebagaimana masyarakat desa di Indonesia pada umumnya, tetangga-tetangga saya sangat ramah, begitu peduli, dan senantiasa berbagi. Informasi cepat menyebar, budaya tolong menolong masih terjaga, saling mengenal dengan semua warga. Tetangga saya bahkan tahu ketika berat badan saya naik atau turun.
Saya terkondisikan untuk senang berada dalam kelompok. Saya suka terlibat dalam kegiatan bersama. Apalagi, orang-orang di sekitar saya juga senang mengikutkan saya dalam kegiatan-kegiatan kelompok. Ikutlah saya Pramuka sejak kelas 3 SD. Saat SMP kelas 1, saya diamanahkan untuk menjadi ketua OSIS. Selepas menjabat, saya otomatis diangkat menjadi ketua geng anak cewek. Ketika SMA, saya terlibat di KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) SMA 1 Sinjai yang konsen pada dunia penulisan dan budaya local. Saya juga aktif di organisasi PII, organisasi pelajar tertua di Indonesia yang bergelut di dunia pendidikan dalam lingkup keIndonesiaan dengan bingkai KeIslaman. Masa kuliah, saya menjadi pengurus BEM, ikut di IKMS, dan menjadi simpatisan di KMKM. IKMS (Ikatan Keluarga Mahasiswa Sinjai) merupakan organisasi daerah saya bagi mahasiswa yang kuliah di Universitas Hasanuddin. KMKM (Keluarga Mahasiswa Kebumian Makassar) merupakan organisasi yang mengimpun beberapa jurusan keilmuan yang peduli terhadap bumi diantaranya Jurusan Biologi UH (jurusan saya), Jurusan Geologi UH, Jurusan Ilmu Tanah UH, Jurusan Arkeologi UH, Jurusan Geografi UNM, Jurusan Pertambangan UVRI.
Saya mencari perbedaan antara kelompok dengan organisasi. Kelompok merupakan
sekumpulan orang yang saling berinteraksi. Organisasi yang saya pahami
adalah sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama dengan aturan-aturan
tertulis (AD/ART) dan memiliki landasan atau dasar tertentu. Selain kelompok
dan organisasi, ada satu lagi interaksi sosial yang lagi booming yaitu
komunitas.
Saya mengenal kata komunitas di mata pelajaran Biologi, jurusan yang saya lulusi saat SPMB. Komunitas versi ilmu Biologi adalah kumpulan populasi yang hidup pada daerah tertentu. Dalam konteks kemasyarakatan, makna komunitas tentu berbeda. Komunitas tidak lagi terikat dalam ruang yang sama, mengingat kemajuan teknologi informasi dikekinian. Komunitas bisa terbentuk lintas negara sekalipun. Hal mendasar dari bergabungnya beberapa orang membentuk komunitas didasarkan pada satu kesamaan, entah kesamaan minat atau kesenangan, budaya, agama, fasilitas, visi misi, dan sebagainya.
Komunitas dalam masyarakat begitu beragam. Saya sempat akrab dengan sebuah komunitas musik berisi anak-anak keren dan seru bernama Caritas, sebuah komunitas di bawah langit Fakultas Sastra UH. Saat mengikuti perayaan Earth Hour 2013 di Benteng Rotterdam Makassar, saya baru pertama kali melihat begitu banyak komunitas yang terlibat dengan membawa identitas masing-masing. Komunitas yang menonjol yaitu komunitas fans Lady Gaga dengan kostum yang ajaib dan fans JKT 48 dengan teriakan yang tidak ada capek-capeknya. Komunitas-komunitas ini hanya sebagian kecil dari interaksi sosial masyarakat.
Sebuah komunitas semestinya mengusung nilai positif bagi anggota maupun lingkungan sekitarnya. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat?! Ilfeelnya masyarakat terhadap komunitas tertentu pasti bersumber dari ketidakpositifan laku dan keberadaan komunitas tersebut. Menurut saya, sebuah komunitas bisa ideal (meski tak mungkin sempurna) jika:
1. Menjadi rumah yang nyaman bagi anggota
2. Memiliki ciri khas
3. Menjadi inspirasi
3. Mewadahi warna warni perbedaan
4. Mampu membuat anggota mencintai komunitas tersebut
5. Mengakomodir kondisi anggota dan komunitas, baik senang-senang maupun susah-susah
7. Menjadi kontributor dalam perbaikan diri sendiri dan masyarakat
8. Visi misi yang selalu bermuara pada manfaat.
Kedelapan hal yang harus dimiliki sebuah komunitas agar menjadi ideal versi saya yang diambil dari kedelapan tema tantangan ngeblog angingmammiri ini. Komunitas tentu tidak sesimpel kelompok tapi tidak juga serumit atau sekaku organisasi. Tapi setidaknya, sebuah komunitas jangan menjadi benalu dalam masyarakat tapi menjadi pionir ide-ide kreatif dalam kebaikan bersama.
Saya dibesarkan di lingkungan yang tingkat interaksinya tinggi. Sebuah desa kecil di selatan Kota Sinjai. Sebagaimana masyarakat desa di Indonesia pada umumnya, tetangga-tetangga saya sangat ramah, begitu peduli, dan senantiasa berbagi. Informasi cepat menyebar, budaya tolong menolong masih terjaga, saling mengenal dengan semua warga. Tetangga saya bahkan tahu ketika berat badan saya naik atau turun.
Saya terkondisikan untuk senang berada dalam kelompok. Saya suka terlibat dalam kegiatan bersama. Apalagi, orang-orang di sekitar saya juga senang mengikutkan saya dalam kegiatan-kegiatan kelompok. Ikutlah saya Pramuka sejak kelas 3 SD. Saat SMP kelas 1, saya diamanahkan untuk menjadi ketua OSIS. Selepas menjabat, saya otomatis diangkat menjadi ketua geng anak cewek. Ketika SMA, saya terlibat di KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) SMA 1 Sinjai yang konsen pada dunia penulisan dan budaya local. Saya juga aktif di organisasi PII, organisasi pelajar tertua di Indonesia yang bergelut di dunia pendidikan dalam lingkup keIndonesiaan dengan bingkai KeIslaman. Masa kuliah, saya menjadi pengurus BEM, ikut di IKMS, dan menjadi simpatisan di KMKM. IKMS (Ikatan Keluarga Mahasiswa Sinjai) merupakan organisasi daerah saya bagi mahasiswa yang kuliah di Universitas Hasanuddin. KMKM (Keluarga Mahasiswa Kebumian Makassar) merupakan organisasi yang mengimpun beberapa jurusan keilmuan yang peduli terhadap bumi diantaranya Jurusan Biologi UH (jurusan saya), Jurusan Geologi UH, Jurusan Ilmu Tanah UH, Jurusan Arkeologi UH, Jurusan Geografi UNM, Jurusan Pertambangan UVRI.
![]() |
| Foto: 1. lembaga kampus (Ospek di Maros), 2. IKMS (Mubes di Malino), 3. PII (Advantra di Karawang),4. KMKM (Stulab di Barru) |
Saya mengenal kata komunitas di mata pelajaran Biologi, jurusan yang saya lulusi saat SPMB. Komunitas versi ilmu Biologi adalah kumpulan populasi yang hidup pada daerah tertentu. Dalam konteks kemasyarakatan, makna komunitas tentu berbeda. Komunitas tidak lagi terikat dalam ruang yang sama, mengingat kemajuan teknologi informasi dikekinian. Komunitas bisa terbentuk lintas negara sekalipun. Hal mendasar dari bergabungnya beberapa orang membentuk komunitas didasarkan pada satu kesamaan, entah kesamaan minat atau kesenangan, budaya, agama, fasilitas, visi misi, dan sebagainya.
Komunitas dalam masyarakat begitu beragam. Saya sempat akrab dengan sebuah komunitas musik berisi anak-anak keren dan seru bernama Caritas, sebuah komunitas di bawah langit Fakultas Sastra UH. Saat mengikuti perayaan Earth Hour 2013 di Benteng Rotterdam Makassar, saya baru pertama kali melihat begitu banyak komunitas yang terlibat dengan membawa identitas masing-masing. Komunitas yang menonjol yaitu komunitas fans Lady Gaga dengan kostum yang ajaib dan fans JKT 48 dengan teriakan yang tidak ada capek-capeknya. Komunitas-komunitas ini hanya sebagian kecil dari interaksi sosial masyarakat.
Sebuah komunitas semestinya mengusung nilai positif bagi anggota maupun lingkungan sekitarnya. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat?! Ilfeelnya masyarakat terhadap komunitas tertentu pasti bersumber dari ketidakpositifan laku dan keberadaan komunitas tersebut. Menurut saya, sebuah komunitas bisa ideal (meski tak mungkin sempurna) jika:
1. Menjadi rumah yang nyaman bagi anggota
2. Memiliki ciri khas
3. Menjadi inspirasi
3. Mewadahi warna warni perbedaan
4. Mampu membuat anggota mencintai komunitas tersebut
5. Mengakomodir kondisi anggota dan komunitas, baik senang-senang maupun susah-susah
7. Menjadi kontributor dalam perbaikan diri sendiri dan masyarakat
8. Visi misi yang selalu bermuara pada manfaat.
Kedelapan hal yang harus dimiliki sebuah komunitas agar menjadi ideal versi saya yang diambil dari kedelapan tema tantangan ngeblog angingmammiri ini. Komunitas tentu tidak sesimpel kelompok tapi tidak juga serumit atau sekaku organisasi. Tapi setidaknya, sebuah komunitas jangan menjadi benalu dalam masyarakat tapi menjadi pionir ide-ide kreatif dalam kebaikan bersama.
Saturday, 27 April 2013
Karena Perempuan... (tetes-tetes sesak yang tertampung saat memaknai film Perempuan Punya Cerita)
Film Perempuan Punya Cerita mengisahkan permasalahan beberapa perempuan di empat lokasi berbeda. Film dari dan untuk perempuan yang juga bertaburan pemain perempuan. Ada apa dengan perempuan? Mengapa cerita perempuan menarik untuk (lagi-lagi) diangkat dalam sebuah film dan dibicarakan? Saya melihatnya dari sisi yang sangat subyektif. Benang merah cerita tentang perempuan ini menurut saya ada tiga hal:
1. Perempuan itu lemah
2. Perempuan menanggung resiko terlihat (hamil misalnya)
3. Perempuan memiliki emosional yang dominan
Perempuan punya cerita merupakan miniatur sederhana tentang kisah tragis perempuan. Banyak cerita belum terungkap, banyak perempuan yang mengalami nasib lebih tragis. Bahkan, para beberapa perempuan pemain film juga tidak menyadari ketragisan yang mereka alami di film ini. “Menjual” diri untuk honor, popularitas, atapun totalitas.
Pertanyaannya adalah, bagaimana perempuan menyikapi permasalah?
Jikalaupun dunia ini sebegitu kejamnya atau laki-laki sedemikian brengseknya, tidak menjadi alasan untuk membiarkan diri sendiri menjadi korban. Perempuan harus bersikap, punya prinsip. Jangan biarkan siapapun merusak diri, karakter, dan masa depan kita. Kita, saya dan kamu berhak memilih untuk menjadi ikan yang tidak asin di lautan.
Untuk anak MIPA yang sebagian besar perempuan, jaga diri baik-baik. Jangan takut bilang tidak untuk sesuatu yang tidak kamu inginkan meskipun diminta oleh orang yang kamu cintai. Jika sudah terlanjur mengorbankan atau dikorbankan, cari orang yang kamu percaya untuk berbagi. Tidak ada masalah yang tidak memiliki solusi. Ujian hidup merupakan tes kenaikan kelas untuk menjadi lebih baik. Buat para lelaki, perempuan bukan hanya sekedar pelampiasan keperkasaan atau tempat bersarangnya nafsu yang setiap saat ingin terlampiaskan. Perempuan itu adalah calon ibu dari anak-anak kalian, generasi penerus peradaban manusia.
Di mata Tuhan, perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya kecuali kualitas keimanan, yang akan jadi parameter sejauh mana kita menghadapi permasalahan.
1. Perempuan itu lemah
2. Perempuan menanggung resiko terlihat (hamil misalnya)
3. Perempuan memiliki emosional yang dominan
Perempuan punya cerita merupakan miniatur sederhana tentang kisah tragis perempuan. Banyak cerita belum terungkap, banyak perempuan yang mengalami nasib lebih tragis. Bahkan, para beberapa perempuan pemain film juga tidak menyadari ketragisan yang mereka alami di film ini. “Menjual” diri untuk honor, popularitas, atapun totalitas.
Pertanyaannya adalah, bagaimana perempuan menyikapi permasalah?
Jikalaupun dunia ini sebegitu kejamnya atau laki-laki sedemikian brengseknya, tidak menjadi alasan untuk membiarkan diri sendiri menjadi korban. Perempuan harus bersikap, punya prinsip. Jangan biarkan siapapun merusak diri, karakter, dan masa depan kita. Kita, saya dan kamu berhak memilih untuk menjadi ikan yang tidak asin di lautan.
Untuk anak MIPA yang sebagian besar perempuan, jaga diri baik-baik. Jangan takut bilang tidak untuk sesuatu yang tidak kamu inginkan meskipun diminta oleh orang yang kamu cintai. Jika sudah terlanjur mengorbankan atau dikorbankan, cari orang yang kamu percaya untuk berbagi. Tidak ada masalah yang tidak memiliki solusi. Ujian hidup merupakan tes kenaikan kelas untuk menjadi lebih baik. Buat para lelaki, perempuan bukan hanya sekedar pelampiasan keperkasaan atau tempat bersarangnya nafsu yang setiap saat ingin terlampiaskan. Perempuan itu adalah calon ibu dari anak-anak kalian, generasi penerus peradaban manusia.
Di mata Tuhan, perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya kecuali kualitas keimanan, yang akan jadi parameter sejauh mana kita menghadapi permasalahan.
Monday, 15 April 2013
Menulislah Isma
Salah satu terapi kejiwaan adalah dengan menulis. Yah, pada saat
masalah menghantam jiwa dan stres mulai melanda, maka dibutuhkan pengendali
agar tidak menjadi gila atau minimal tidak merugikan hari-hari kita. Pada
kondisi tersebut, kerapkali kita merasa bahwa berbicara dengan orang lain
bukanlah solusi terbaik. Hanya kita yang memahami masalah yang kita hadapi.
Berbicara dengan teman, sahabat, orang tua, atau dengan yang lainnya bisa jadi
menuai respon yang kita tidak inginkan, bahkan terkesan menyalahkan. Akan
menambah masalah dan menyebabkan keterpurukan yang dalam. Makanya, menulislah.
Tinta dan kertas tak pernah berkhianat. Mereka setia dan tidak cerewet. Kita bisa menuliskan apa saja, semau kita. Perasaan yang bercampur aduk, kemarahan, kesepian, kekecewaan, kerinduan, bahkan perasaan yang kita tidak mengerti sama sekali. Tulisan-tulisan kita tidak akan berbalik menyalahkan atau memberi nasehat yang kita tidak ingin dengar. Mereka siap menampung uneg-uneg kita dan tidak menceritakan kembali kepada yang lain kecuali kita teledor menyimpannya.
Saya intens menulis (diary) sejak SMP kelas 1. Memang sih, selain matematika, saat SD saya paling suka pelajaran Bahasa Indonesia jika diminta untuk menuliskan pengalaman pribadi setelah liburan. Saya selalu menyelesaikan pertama kali dan mendapat nilai bagus. :). Tapi untuk rutin menulis, ya saat SMP. Ketika pubertas sudah menghampiri maka sulit untuk menceritakannya ke orang lain. Didekati kakak kelas, suka sama ini, tidak suka sama ini...rasanya malu saja jika semua orang tahu. Alhasil, jadilah diary warna warni beraroma wangi yang menjadi curhatan hati di malam hari :). Seringpula saya mengasah kemampuan menulis dengan membalas surat cinta beberapa lelaki. Perlu keahlian khusus untuk menulis kalimat penolakan bernada halus agar mereka tidak tersinggung. Saya tidak mau pacaran. Apalagi masih SMP. :(.
Saya juga sudah mulai menulis puisi yang dikonsumsi pribadi. Apalagi sejak ibu meninggal dunia. Hanya kata-kata yang mampu saya jadikan tempat berbagi. Menulis menjadi sarana pelarian duka cita. Saya tidak boleh mengumbar kesedihan sebab keluarga akan turut bersedih dalam waktu yang lama. Saya harus kuat, dimata mereka. Maka pada kata dan puisilah saya melampaiskan tangis.
Kebiasaan dan kesenangan menulis berlanjut saat di SMA. Bukan lagi sekedar pelampiasan masalah. Menulis kini bukan hanya terbatas pada diary. Saya dan kelima teman bergabung dalam komunitas KIR (Kelompik Ilmiah Remaja) yang dibimbing oleh Pak Muhannis, guru bahasa Jerman kala itu dan seorang budayawan. Kami dibimbing untuk menulis karya tulis ilmiah populer. Beberapa kali kami mengikuti lomba menulis antar kabupaten. Saya tidak pernah menjadi pemenang pertama :).
Juara bukan prioritas atau mungkin keahlian saya. Saya cukup bangga menjadi bagian dari komunitas kepenulisan yang peduli pada bakat pelajar sekaligus perhatian terhadap budaya lokal. Menulis dan jalan-jalan, dua hal yang menjadi possion saya. Untuk observasi atau sekedar dekat dengan budaya lokal,kami pernah mengunjungi kampung adat Karampuang. Kami juga pernah nginap di sebuah kampung terpencil di kec. Sinjai Tengah yang memiliki kepercayaan unik tentang leluhur mereka. Kami juga pernah menjelajahi pesisir Bulukumba, mengunjungi Kajang, dan menginap di pantai Ara lalu mendatangi sebuah gua yang dijadikan tempat penyimpanan makam kayu oleh orang-orang di zaman dahulu. (Spertinya saya harus menulis khusus tentang perjalanan saya). Biaya perjalanan kami diambil dari uang hadiah hasil lomba yang disisihkan.
Saya dan teman-teman lumayan terpicu dan berpacu untuk menulis karena sering diikutkan dalam perlombaan. Saya pernah membuat tulisan dengan tema Dampak TV Bagi Pelajar, Sistem Pertanian Tradisional di Kab. Sinjai, dan Asal Usul Nama Desa Pattalassang. Tulisan terakhir berhasil memjadi juara 2 dan dibukukan bersama pemenang yang lain oleh sebuah yayasan dari Jepang. Sangat bangga kala itu karena akhirnya punya karya dan punya buku meski proyek bersama. Sayangnya, buku jatah saya hilang. Teman-teman saya juga sudah tidak memilikinya. Satu-satunya bukti tersimpan di perpustakaan daerah Sinjai :(.
Selepas SMA, saya kehilangan komunitas. Tapi diary tetap setia menemani. Kembalilah saya menulis untuk diri sendiri. Saat saya jatuh cinta pada senior dan di pemahaman agama saya kala itu dilarang untuk memgungkapkannya kecuali dalam pernikahan, diarylah yang jadi pelarian. Saat kegelisahan tentang dunia kahasiswaan mengganggu isi kepala, diarylah yang menjadi tempat pelampiasan (karena saya tidak suka ikut demonstrasi). Kadang menulis puisi lalu dikirim ke radio kampus dengan memggunakan nama samaran.
Sering mencoba cari komunitas baru untuk menambah ilmu tapi belum menemukan yang cocok di hati. Lalu saya mencoba menggerakkan teman-teman untuk sama-sama menulis dan menerbitkannya dalam buletin. Alhamdulillah, terbit satu edisi. Selebihnya hanya bergelayut pada ide dan obsesi. Sampai sekarang, buletin edisi selanjutnya belum juga terbit. Menulis untuk konsumsi publik ternyata tak semudah kelihatannya, meski tak mustahil pula.
Menulis, yah... Menulislah. Karena waktu akan pergi dan tulisanlah yang merekam jejaknya. Lucu saja rasanya jika kembali membaca tulisan yang dulu. Mengingatkan kejadian yang terlupakan, menjadi bukti valid peristiwa masa lalu. Membaca kembali curahan hati atau beberapa karya seringkali menyembuhkan luka kesendirian yang kerap muncul.
"Ikatlah ilmu dengan tulisan" kata-kata bijak yang pernah saya dengar. Al Qur'an pada masa khalifah Usman juga akhirnya diputuskan untuk dituliskan demi menjaga keberlangsungan pengetahuan. Maka, menulislah Isma... :). Setelah membaca tentunya. Ikatlah makna-makna yang kau temui disekitarmu pada kata. Orang lain belum tentu menemukannya atau bisa jadi mereka pada sudut pandang yang berbeda. Menulislah dan berbagilah pada dunia. :).
Monday, 11 May 2009
menikah (oleh2 pernikahan ka ulla n ka sovi)
kata itu sering membuat orang bergidik, dumba-dumba, berteori, berspekulasi, berimajinasi apalagi diusia duapulusan keatas. bagi sebagian cow, khususnya yang tidak akrab dengan Rasulullah, mungkin masih mengabaikan ini. didukung masa produksi yang long live. gak seperti cew. ada masa tertentu yang membatasi sehingga menikah menjadi bahan pikiran utama, diakui ato tidak. apalagi buat penganut paham NPNO. no pacaran nikah only.
saya termasuk orang yang sangat suka mendatangi acara pernikahan, apa lagi mendengarkan ijab qabul. ada keajaiban kecil, ada perhelatan agung yang tercipta hanya dalam 5 menit. perjanjian akbar, bukan hanya pada manusia tapi dengan Tuhan. tempo yang sangat singkat untuk mengubah hal haram menjadi halal, mengubah status n tanggung jawab seseorang, menjadi dua manusia pabrik peradaban kecil.
ada sedikit oleh2 intisari ceramah pernikahan kemarin:- knapa mesti nikah:
- Sunnatullah
- Sunnah Rasulullah
- Kebutuhan pokok lelaki dan perempuan
- kriteria pertemanan dalam pernikahan
- teman sejiwa: pertemanan karena masih sama2 memiliki jiwa
- teman setia: pertemanan karena kepentingan
- teman sejati: pertemanan dunia akhirat
Saturday, 25 October 2008
cinta 5 mars
aku venus yang rumit. dibesarkan nenek, keluarga broken, trauma cinta, pernah benci laki-laki, sering sendiri, dipaksa dewasa, pengen banget nikah menjadi kuas yang mewarnai kanvas hidupku.sadar akan hal itu, akan sulit memuarakan hati pada seseorang yang tak layak kualifikasi. dalam perjalanan hidupku, ada lima cerita tentang bagaimana mars mencoba datang, singgah, lalu pergi. tentu tidak termasuk yang hanya sekedar menjajaki. semuanya dalam bad ending. hehehe.
the first man
panggil dia bayu.cakep, ramah, dewasa. banyak yang ngefans. pertama kali melihatnya, penasaran. kok bisa ya ada makhluk bening kayak gini di tempat ini. ternyata dia teman sahabatku, dikenalkan, dan dia ngajak jadian. weits, be cool men. saya gak berkenan. wong males dengan cinta yang bullshit. tapi orang-orang di sekitar pada ngedukung. ya... udah. aku menawari persyaratan. kita bisa jadian tapi aku gak pake cinta. dia sepakat. okelah. tapi dia tak lebih seorang pecundang. baik dan ngemong tapi ternyata dia playboy ulung dan penjahat wanita. kamuflase yang dia tampakkan kumaknai jika dia memang tidak bisa menyentuh hati dan ragaku. terlanjur menjadi "korban" penaklukannya, aku bertekad untuk jadi sutradara. dia mungkin tidak tau berhadapan dengan siapa. dia ke luar kota berbulan-bulan, gak masalah. tak ada kata putus, kami hilang komunikasi. aku kemudian memahami pacaran gak cerdas n gak syari`i. dia datang dan shock. tak ada aurat yang di umbar, tak ada genggaman tangan. lunglai, dia beranjak pulang. kunamakan itu ending formalitas. cerita tak terhenti, enam tahun kemudian dia datang dengan tawaran yang lebih serius. benakku berfikir, antara memberinya kesempatan dengan menginginkan yang sesuai kriteria. rokok, pergaulan bebas, pendidikan adalah hal yang sulit kutoleransi. dia masih menganggapku ada adalah obat dari kesendirian jiwa. lama kubuka ruang fikir dan rasa, aku enggan. tapi dia bantuku keluar dari persoalan. marah karena merasa tertolak, dia membalas dendam dengan menyatakan rasa pada kakakku dan menganggapku tak pernah ada setelah itu dia memacari sahabatku. air mataku sempat tumpah dalam tafakkurku. bukan patah hati, tapi kecewa. dia memperlakukanku secara tidak terhormat. dia menginjak-injak harga diriku. angkuhku berbuah. lelaki di mana-mana sama saja. P E C U N D A N G!!!
the second man
sebut saja dia fulan. aktivis, ngaji, berwawasan. dia menyebutku unik dan mengajakku ta`arruf. siapa takut? tak ada rasa, dia belum kerja, konvensional. hanya keyakinan jika ini baik maka akan diberikan jalan dan muara terbaik. deadlinenya tiga bulan. komunikasi berjalan, saling mengenal di lakukan. lancar. dia hadir saat masa-masa konflikku dengan pace. ada yang pro, ada yang kontra. aku serahkan pada Sang Pemilik takdir. tiga bulan menjelang, dia datang. terbentur persoalan budaya bugis, mau tidak mau harus mundur. assajingeng dan dui pappenre. apalagi pace tidak respek. dia minta waktu untuk memenuhi itu dan ternyata dia memang tidak siap dari awal. komitmen waktu sudah disepakati dan tidak ada revisi sebelumnya, keputusan untuk menghentikan harus di lakukan meski terkesan kejam. dia mencoba memohon, tapi sulit bagiku memberi kesempatan kedua. dia pergi. kudengar kabar dia mendekati sahabatku. :).
the 3th man
aku lupa namanya siapa. diperantarai oleh seorang teman. alumni pesantren, masih kuliah, kontra organisasi. B). apa salahnya mencoba. ikhtiar. dia datang dengan kakaknya. kuberi tiga pertanyaan yang harus dia jawab. waktu tidak cukup, janjinya via telepon. satu penilaian, dia tak terlalu menjaga. grafiknya menurun. komunikasi dia awali. mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama dan ingin segera merealisasikan. pertanyaanku dijawab parsial. visi misi tak terbahas tuntas. kian mendekati titik nol, aku menghentikan. daripada dia terjebak lebih dalam, aku yang harus menyelamatkan. bung, hidup tak cukup dengan kecendrungan...
the 4th man
namanya shiva. keren, jahil, preman, anak bungsu, sudah kerja. aku tertarik padanya karena mengingatkanku pada masa lalu. kami akrab. mungkin karena kesamaan latar belakang. dia memanggilku bunda. kuanggap dia teman yang ingin diselamatkan. dia nyatakan rasa, aku yang shock. aku jauh dari kriteria perempuan ideal meski dulu sempat menjadi bunga desa. *_*. aku tak bisa pacaran. dia paham tapi masih mencoba komunikasi. dia ingin belajar. dia ingin menjadi lebih baik. aku tak mau jika itu karena diriku. manusia hina dhoif sepertiku tidak layak dijadikan sebab. kugiring cara berfikirnya. hubungan kami sesuai aturanku. tapi tetap ada beberapa hal yang tidak terkontrol. kurasakan gundah. aku harus menghentikan ini. tapi aku terlanjur menyayanginya. kubahasakan orientasi interaksi, dia juga bingung. dia belum siap nikah. aduh, siapa juga mau menikah dengan kondisi begini. aku menawarkan break komunikasi sepekan lalu sebulan untuk memikirkan jalan terbaik. terputuskan untuk sama-sama menjalani tapi tetap menjaga interaksi. toleransi besar kuberikan. waktu berjalan, bukan proses mengenal yang terjadi tapi dia menghilang. ternyata dalam jeda waktu itu dia kelelahan. arogansi masing-masing muncul. pembenahan diri tak dilakukan. resahku sebab kutak mau jika imamku kelak shalatnya saja tidak beres. aku juga dinilai seperti voc. plin plan. aku akhirnya juga capek. kukomunikasikan, smsku tidak dibalas. kutelepon, dia ogah-ogahan. kuajak bertemu, dia tidak datang. diakhiri lebih baik daripada menyiksa keduanya. dia pun bilang, sudahimi pale. nyamanma juga dengan duniaku sekarang. hahhh, clubbing dan ngaji memang sulit di sandingkan.
the5th man
aku menyebutnya pangeran. cakep, ikhwan, lucu, punya banyak fans. kawan lama dan ternyata dulu kami saling simpati tanpa mengetahui satu sama lain. setelah merasa terabaikan, dia mulai berkomunikasi. kuanggap sebagai silaturahmi atau setidaknya memperbaiki hubungan yang renggang. dia nyatakan cinta, tiga hari waktu yang kuperlukan untuk berpijak ke bumi. dia orang terideal yang punya orientasi kepadaku. interaksi terjalin, kupikir aku membutuhkannya untuk melengkapi kekuranganku. terlepas dari itu, kekhawatiran mengungkungku. aku takut dia terjerumus. sepaham apapun dia jika rasa kecendrungan sudah membelenggu, sulit untuk mengontrol diri. bahkan beberapa kejadian yang kutanyakan kesyari`iannya juga tak terjawab. dialihkan. ah, pangeran. aku tak mau karenaku kau menjadi lebih buruk. aku tidak rela akan hal itu. oleh karena itu, dalam keterbatasan pemahaman, kucoba untuk mengontrol. kesalahan terbesar adalah hubungan ini tidak punya indikator keberhasilan proses pencapaian target. dunia, fikrah, jalan hidup begitu berbeda. rasionalitas tertutupi perasaan. ketidakmampuan menamakan hubungan. aku berusaha menjadi sahabat. diapun bercerita ada fulana yang mengganggu konsentrasi ibadahnya. kupikir itu aku. ternyata orang lain. air mata kekecawaan terhadap laki-laki mengalir lagi. lalu posisiku di mana. dia minta maaf. kutelan luka dan memberinya kesempatan. tapi saat aku yang membuat kesalahan dengan menawarkan mengakhiri hubungan karena tak sanggup masuki istananya, dia tak beriku ruang kembali. dia menghentikan meski dengan alasan sementara. aku tertolak oleh orang yang mengaku cinta dan tawarkan mimpi?! aku merasa ada alasan lain. feelingku mengatakan demikian. tapi aku tidak mau irrasional. kupinta tiga kali, dia tak bergeming. okelah. sudah ncukup. kuputuskan untuk game over selamanya. buat apa bertahan dengan orang yang tidak menginginkanku. dia juga mengakui berat tapi juga belum bisa kembali. sudahlah, kita jalani hidup kita masing-masing. masih sering menghubungi, rasa yang kupunya juga masih sama seperti dulu. rasa itu pula yang menghantarkanku pada luka saat tau, fulana itu masih ada. aku yang benar-benar harus pergi..
Subscribe to:
Posts (Atom)
