Film Perempuan Punya Cerita mengisahkan permasalahan beberapa perempuan di empat lokasi berbeda. Film dari dan untuk perempuan yang juga bertaburan pemain perempuan. Ada apa dengan perempuan? Mengapa cerita perempuan menarik untuk (lagi-lagi) diangkat dalam sebuah film dan dibicarakan? Saya melihatnya dari sisi yang sangat subyektif. Benang merah cerita tentang perempuan ini menurut saya ada tiga hal:
1. Perempuan itu lemah
2. Perempuan menanggung resiko terlihat (hamil misalnya)
3. Perempuan memiliki emosional yang dominan
Perempuan punya cerita merupakan miniatur sederhana tentang kisah tragis perempuan. Banyak cerita belum terungkap, banyak perempuan yang mengalami nasib lebih tragis. Bahkan, para beberapa perempuan pemain film juga tidak menyadari ketragisan yang mereka alami di film ini. “Menjual” diri untuk honor, popularitas, atapun totalitas.
Pertanyaannya adalah, bagaimana perempuan menyikapi permasalah?
Jikalaupun dunia ini sebegitu kejamnya atau laki-laki sedemikian brengseknya, tidak menjadi alasan untuk membiarkan diri sendiri menjadi korban. Perempuan harus bersikap, punya prinsip. Jangan biarkan siapapun merusak diri, karakter, dan masa depan kita. Kita, saya dan kamu berhak memilih untuk menjadi ikan yang tidak asin di lautan.
Untuk anak MIPA yang sebagian besar perempuan, jaga diri baik-baik. Jangan takut bilang tidak untuk sesuatu yang tidak kamu inginkan meskipun diminta oleh orang yang kamu cintai. Jika sudah terlanjur mengorbankan atau dikorbankan, cari orang yang kamu percaya untuk berbagi. Tidak ada masalah yang tidak memiliki solusi. Ujian hidup merupakan tes kenaikan kelas untuk menjadi lebih baik. Buat para lelaki, perempuan bukan hanya sekedar pelampiasan keperkasaan atau tempat bersarangnya nafsu yang setiap saat ingin terlampiaskan. Perempuan itu adalah calon ibu dari anak-anak kalian, generasi penerus peradaban manusia.
Di mata Tuhan, perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya kecuali kualitas keimanan, yang akan jadi parameter sejauh mana kita menghadapi permasalahan.
Ketuk pintuku dan silahkan bertamu. Nikmati secangkir teh dan beberapa potong kata tersurat serta tersirat. Mengguratkan senyum, mengharukan hati, bergolak amarah. Semoga ada ibrah. It's me.... Eeshma *_*
Showing posts with label psiko. Show all posts
Showing posts with label psiko. Show all posts
Saturday, 27 April 2013
MUMET
Tertuang kisahku, berarti aku lagi tak punya siapa-siapa untuk bercerita. Aku hanya ingin membagi sesak.
Dulu, sendiriku menjadi tameng. Sakitku terselubung dibalik teduh kepedulian dan ketegaran. Malaikatku bagi orang
lain tanpa mereka tau seberapa sering aku menggulung diri melawan psikosomatis sendirian. Lebih sering berbicara pada mammiku yang telah meninggal lewat curhatan tulisan. Kini, aku menyembuhkan luka
dan berbagi dengan konsekuensi mendombrak benteng pertahanan dan keangkuhan tapi aku dibenci habis-habisan. Aku menemukan kawan sekaligus mencintainya dengan segala konsekuensi.
Mengapa semuanya menjadi salah...
argggghhhhhhhhhhhhdjkgrddkkkhhhhgghhhhhhhhhhh. i don`t know what can i do...
Monday, 15 April 2013
Menulislah Isma
Salah satu terapi kejiwaan adalah dengan menulis. Yah, pada saat
masalah menghantam jiwa dan stres mulai melanda, maka dibutuhkan pengendali
agar tidak menjadi gila atau minimal tidak merugikan hari-hari kita. Pada
kondisi tersebut, kerapkali kita merasa bahwa berbicara dengan orang lain
bukanlah solusi terbaik. Hanya kita yang memahami masalah yang kita hadapi.
Berbicara dengan teman, sahabat, orang tua, atau dengan yang lainnya bisa jadi
menuai respon yang kita tidak inginkan, bahkan terkesan menyalahkan. Akan
menambah masalah dan menyebabkan keterpurukan yang dalam. Makanya, menulislah.
Tinta dan kertas tak pernah berkhianat. Mereka setia dan tidak cerewet. Kita bisa menuliskan apa saja, semau kita. Perasaan yang bercampur aduk, kemarahan, kesepian, kekecewaan, kerinduan, bahkan perasaan yang kita tidak mengerti sama sekali. Tulisan-tulisan kita tidak akan berbalik menyalahkan atau memberi nasehat yang kita tidak ingin dengar. Mereka siap menampung uneg-uneg kita dan tidak menceritakan kembali kepada yang lain kecuali kita teledor menyimpannya.
Saya intens menulis (diary) sejak SMP kelas 1. Memang sih, selain matematika, saat SD saya paling suka pelajaran Bahasa Indonesia jika diminta untuk menuliskan pengalaman pribadi setelah liburan. Saya selalu menyelesaikan pertama kali dan mendapat nilai bagus. :). Tapi untuk rutin menulis, ya saat SMP. Ketika pubertas sudah menghampiri maka sulit untuk menceritakannya ke orang lain. Didekati kakak kelas, suka sama ini, tidak suka sama ini...rasanya malu saja jika semua orang tahu. Alhasil, jadilah diary warna warni beraroma wangi yang menjadi curhatan hati di malam hari :). Seringpula saya mengasah kemampuan menulis dengan membalas surat cinta beberapa lelaki. Perlu keahlian khusus untuk menulis kalimat penolakan bernada halus agar mereka tidak tersinggung. Saya tidak mau pacaran. Apalagi masih SMP. :(.
Saya juga sudah mulai menulis puisi yang dikonsumsi pribadi. Apalagi sejak ibu meninggal dunia. Hanya kata-kata yang mampu saya jadikan tempat berbagi. Menulis menjadi sarana pelarian duka cita. Saya tidak boleh mengumbar kesedihan sebab keluarga akan turut bersedih dalam waktu yang lama. Saya harus kuat, dimata mereka. Maka pada kata dan puisilah saya melampaiskan tangis.
Kebiasaan dan kesenangan menulis berlanjut saat di SMA. Bukan lagi sekedar pelampiasan masalah. Menulis kini bukan hanya terbatas pada diary. Saya dan kelima teman bergabung dalam komunitas KIR (Kelompik Ilmiah Remaja) yang dibimbing oleh Pak Muhannis, guru bahasa Jerman kala itu dan seorang budayawan. Kami dibimbing untuk menulis karya tulis ilmiah populer. Beberapa kali kami mengikuti lomba menulis antar kabupaten. Saya tidak pernah menjadi pemenang pertama :).
Juara bukan prioritas atau mungkin keahlian saya. Saya cukup bangga menjadi bagian dari komunitas kepenulisan yang peduli pada bakat pelajar sekaligus perhatian terhadap budaya lokal. Menulis dan jalan-jalan, dua hal yang menjadi possion saya. Untuk observasi atau sekedar dekat dengan budaya lokal,kami pernah mengunjungi kampung adat Karampuang. Kami juga pernah nginap di sebuah kampung terpencil di kec. Sinjai Tengah yang memiliki kepercayaan unik tentang leluhur mereka. Kami juga pernah menjelajahi pesisir Bulukumba, mengunjungi Kajang, dan menginap di pantai Ara lalu mendatangi sebuah gua yang dijadikan tempat penyimpanan makam kayu oleh orang-orang di zaman dahulu. (Spertinya saya harus menulis khusus tentang perjalanan saya). Biaya perjalanan kami diambil dari uang hadiah hasil lomba yang disisihkan.
Saya dan teman-teman lumayan terpicu dan berpacu untuk menulis karena sering diikutkan dalam perlombaan. Saya pernah membuat tulisan dengan tema Dampak TV Bagi Pelajar, Sistem Pertanian Tradisional di Kab. Sinjai, dan Asal Usul Nama Desa Pattalassang. Tulisan terakhir berhasil memjadi juara 2 dan dibukukan bersama pemenang yang lain oleh sebuah yayasan dari Jepang. Sangat bangga kala itu karena akhirnya punya karya dan punya buku meski proyek bersama. Sayangnya, buku jatah saya hilang. Teman-teman saya juga sudah tidak memilikinya. Satu-satunya bukti tersimpan di perpustakaan daerah Sinjai :(.
Selepas SMA, saya kehilangan komunitas. Tapi diary tetap setia menemani. Kembalilah saya menulis untuk diri sendiri. Saat saya jatuh cinta pada senior dan di pemahaman agama saya kala itu dilarang untuk memgungkapkannya kecuali dalam pernikahan, diarylah yang jadi pelarian. Saat kegelisahan tentang dunia kahasiswaan mengganggu isi kepala, diarylah yang menjadi tempat pelampiasan (karena saya tidak suka ikut demonstrasi). Kadang menulis puisi lalu dikirim ke radio kampus dengan memggunakan nama samaran.
Sering mencoba cari komunitas baru untuk menambah ilmu tapi belum menemukan yang cocok di hati. Lalu saya mencoba menggerakkan teman-teman untuk sama-sama menulis dan menerbitkannya dalam buletin. Alhamdulillah, terbit satu edisi. Selebihnya hanya bergelayut pada ide dan obsesi. Sampai sekarang, buletin edisi selanjutnya belum juga terbit. Menulis untuk konsumsi publik ternyata tak semudah kelihatannya, meski tak mustahil pula.
Menulis, yah... Menulislah. Karena waktu akan pergi dan tulisanlah yang merekam jejaknya. Lucu saja rasanya jika kembali membaca tulisan yang dulu. Mengingatkan kejadian yang terlupakan, menjadi bukti valid peristiwa masa lalu. Membaca kembali curahan hati atau beberapa karya seringkali menyembuhkan luka kesendirian yang kerap muncul.
"Ikatlah ilmu dengan tulisan" kata-kata bijak yang pernah saya dengar. Al Qur'an pada masa khalifah Usman juga akhirnya diputuskan untuk dituliskan demi menjaga keberlangsungan pengetahuan. Maka, menulislah Isma... :). Setelah membaca tentunya. Ikatlah makna-makna yang kau temui disekitarmu pada kata. Orang lain belum tentu menemukannya atau bisa jadi mereka pada sudut pandang yang berbeda. Menulislah dan berbagilah pada dunia. :).
Sunday, 24 October 2010
Tuti For Me
ah, pinguinku kenapa harus kau alami semua ini. Di saat kau telah berhasil menguak arti sebuah rasa, mengapa luka justru datang menyapa..ingin rasanya membuat perhitungan dengan orang yang menorehkan luka dihatimu, tapi aku yakin kau akan melarang. Karena kau yakini keputusannya adalah yang terbaik, meski harus meninggalkan luka dihatimu. Ah, pinguin tak kusangka curhat-curhat panjang itu akan berakhir seperti ini. Maafkan jika sembabnya matamu luput dari pandanganku. Tapi yakinlah aku mencoba meresapi apa yang sedang kau rasa. aku yakin kau tegar dan menarik hikmah dari apa yang kau alami, pun juga aku.
Wednesday, 3 December 2008
???
kusembunyikan laraku dalam bahak tawa
kuendapkan tangisku dalam untaian cerita
kehilangan...
ditinggalkan...
tak ada yang abadi di dunia
termasuk kuatnya inginku tetap bersama
andai saja...
jika...
hanya mampu kuadu pada gelap langit dan sepi malam
kubiasakan bertahan dalam kesendirian
tawa itu...
mencari itu...
kurindu dalam tiap hela nafas
merasakan yang pernah ada saat tiada
... maaf kembali kuberduka...
kuendapkan tangisku dalam untaian cerita
kehilangan...
ditinggalkan...
tak ada yang abadi di dunia
termasuk kuatnya inginku tetap bersama
andai saja...
jika...
hanya mampu kuadu pada gelap langit dan sepi malam
kubiasakan bertahan dalam kesendirian
tawa itu...
mencari itu...
kurindu dalam tiap hela nafas
merasakan yang pernah ada saat tiada
... maaf kembali kuberduka...
Saturday, 29 November 2008
tak berwarna
jika airmata pun tak mampu redakan amarah
juga suara yang tak temukan muara
salahkah jika kuredam
hingga kakiku tak sanggup topang beban
aku hanya inginkan kebenaran
juga terlepas dari pasungan arogansi
aku hanya ingin rasakan tidur tenang
tanpa khawatirkan esok mentari menyinarkan warna temaran
aku hanya ingin di dekap
agar lukaku luruh
agar nodaku terbasuh
agar kupunya daya tuk dongakkan kepala
aku lelah..........
juga suara yang tak temukan muara
salahkah jika kuredam
hingga kakiku tak sanggup topang beban
aku hanya inginkan kebenaran
juga terlepas dari pasungan arogansi
aku hanya ingin rasakan tidur tenang
tanpa khawatirkan esok mentari menyinarkan warna temaran
aku hanya ingin di dekap
agar lukaku luruh
agar nodaku terbasuh
agar kupunya daya tuk dongakkan kepala
aku lelah..........
Saturday, 8 November 2008
i don`t know
satu kata yang menggambarkan rasaku, hampa... tiada kesedihan juga air mata. ditinggalkan bagiku tidak masalah. kehilangan mammiku delapan tahun yang sil;am cukup beriku imun yang kuat untuk kalimat "tak memiliki lagi". impiannya di sana dan dia berhal meraihnya bahkan tanpa andilku sekalipun. meski ingin ada pertemuan terakhir sebelum kau pergi sebhab bisa saja kita tidak akan bertemu selamanya. ah, tak perlu sentimentil itu. cengengku, bukan untuk meratapimu yang bukan siapa-siapa dan tak ingin menjadi siapa-siapa. doa yang kau pinta, baik dan banya, kupersipakan tapi tanpa kata, kertas, dan tinta. i`m sorry coz i love you but i hate you.
Tuesday, 28 October 2008
LUKA HATI NAYARA
aku nyaris tak sanggup lalui semua sakit ini Tuhan...
I
aku benci kepasrahan, aku muak ketakberdayaan.
aku nyaris kehilangan kewarasan.
tak ada mimpi
tak ada keakuan
tak ada mentari yang kemarin
I
aku benci kepasrahan, aku muak ketakberdayaan.
aku nyaris kehilangan kewarasan.
tak ada mimpi
tak ada keakuan
tak ada mentari yang kemarin
Subscribe to:
Posts (Atom)